03
Jun
10

TATAKRAMA DAN SOPAN SANTUN


MAKALAH TATAKRAMA DAN SOPAN SANTUN

Latar belakang.

Indonesia adalah bangsa yang besar, yang terkenal akan budayanya yang ramah kepada setiap pendatang. Negara dimana asas saling menghormati dijunjung tinggi. Inilah negara dimana orang-orangnya saling toleran dan senan tiasa menjunjung tinggi kebersamaan.

Mungkin itulah gambaran bangsa Indonesia beranad-abad yang lalu., sehingga bangsa barat ingin menguasai negara ini, negara yang selain orang-orangnya sopan, juga memiliki sumberdaya alam yang tak terkatakan. Berubah seratus delapan puluh derajad. Saat ini bangsa ini mngalami kemunduran yang luar biasa dalam bidang tatakrama dan sopan santun, yang sebenarnya justru itulah yang seharusnya menjadi ciri khas bangsa ini, kini hilang digerogoti oleh teknologi dan kemajuan jaman.

Indonesia sudah merdeka sejak tahun 1945, merdeka dari para penjajah, benarkah itu? Kini secara tidak dsadar  bangsa ini kembali dijajah, dijajah secara moral sehingga terkikis kebudayaan-nya, sehingga banyak orang dari bangsa ini lupa akan jati dirinya. Mereka melupakan kebudayaan dasarnya, yaitu kebudayaan yang bukan hasil karya semata melainkan hasil dari hati nurani bangsa ini yaitu tatakrama.

Banyak para pemuda saat ini yang tidak lagi mempeerhatikan masalah tatakrama. Hal ini terbukti dengan banyaknya para pemuda yang tidak tahu tentang cara bersikap dengan orang secara baik dan benar, cara bertutur kata yang baik, dan cara berperilaku yang semestinya dilakukan oleh kawula muda. Jatidiri bangsa ini sudah mulai terkikis oleh jaman sehingga menimbulkan dampak yang besar seperti saat ini. Hal ini diperburuk lagi dengan tidak pedulinya para kawula muda tentang pentingnya tatakrama dan sopan santun dalam kehidupan.

Rumusan masalah.

  1. Anak-anak jaman sekarang kurang peduli tentang tatakrama dan sopan santun.
  2. Banyak pemuda saat ini yang kurang memiliki etika.
  3. Lunturnya jati diri bangsa.
  4. Budaya bangsa yang di klaim oleh bangsa lain.

Pembahasan.

Pada dasarnya orang tua sangat berperen penting dalam pembentukan etika pada anak. Dan orang tua pula dituntut untuk mengajarkan nilai-nilai tersebut. Namun mengajarkan etika tidak bisa dilakukan hanya satu hari. Hal ini membutuhkan proses yang cukup panjang dan haris dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan. Hal tersebut adalah suatu langkah awal untik membentuk suatu generasi yang sadar diri terhadap tatakrama dan sopan santun.

Kebanyakan dari anak-anak kurang minat mengenai pelajaran yang behubungan dengan sopan santun dan tatakrama. Anak-anak lebih menyukai pelajaran yang mengandung tegnologi dan bersifat modern. Situasi yang banyak terjadi adalah ada seorang anak yang sangat pandai dalam kemampuan akademisnya, namun dalam hal bergaul ia kurang pandai, bahkan ia lebih suka menyendiri daripad bermain dengan temn-temannya. Dari hal itubisa kita lihat bahwa orang yang pandai belum tentu pandi dalam bergaul, uraian di atas hanyalah contoh dalam pergaulan anak dengan teman-temannya. Bisa dibayangkan bagaimana bila bukan hanya bergaul dengan teman sebaya, tetapi harus masuk ke lingkungan yang lebih besar yaitu dalam masyarakat, yang terdiri dari banyak orang dalam berbagai tingkat sosial yang berbeda-neda  dan usia yang berfareasi. Padahal kelak anak tersebut akan terjun kedalam dunia tersebut.

Inilah suatu gambaran mengenai kurang pedulinya para kawula muda dalamberlaku tatakrama dan sopan santun dalam kehidupanya. Bila permasalahan tersebut terjadi pada orang yang sudah dewasa maka akan sangat sulit untuk diperbaiki, lain critanya bila sejak kecil anak-anak sudah diberi pelajaran dan bimbingan mengenai tatakrama damn sopan santun. Karena dalam masa anak-anak orangtuanyalah yang paling dekat dengan anak tersebut. Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan agar kelak anak  menjadi cerdas dalam bertatakrama:

  1. Orang tua sebagai model.

Sekali lagi, pembentukan perilaku sopan santun sangat dipengaruhi lingkungan. Anak pasti mencontoh perilaku orang tua sehari-hari. Tidak salah kalau ada yang menyebutkan bahwa ayah/ibu merupakan model yang yepat bagi anak-anak. Di sisi lain, anak dianggap sebagai sosok peniiiiru ulung. Lantaran itu, orangtua sebaiknya selalu menunjukan sikap sopan santun. Dengan begitu, anak pun secara otimayis akan mengadopsi tatakrama tersebut. Perlu diketahui, pola pengajaran bertatakrana tentunya tidak semata berupa nasihat, akan tetapi juga perlu contoh.

  1. Mulai dari kecil.

“Pengajaran” tatakrama sebaiknya dimulai dari kehidupan sehari-hari dan dari hal yang kecil. Anak dikenalkan mengenai aturan-aturan atau adab sopan santun. Kelak kebiasaan-kebiasaan baik yang kadang luput dari perhatian ini akan terus dilakukan hingga ia besar.

  1. Jelaskan tujuanya.

Mengajak atau mengajarkan anak bersopan santun tidak perlu dengan cara keras. Namun diupayakan dengan kelembutan sehingga anak betul-betul memahami maksud dan tujuan beretiket, pada umumnya anak yang baik dan bisa menghargai orang lain adalah anak yang tahu sopan santun. Sebagai sebuah proses, bagaimanapun orangtua perlu sabar hingga anak mengerti dan menerapkanya.

Bila perkara-perkara tersebut dilaksanakan atau setidaknya diterapkan dalam kehidupan berkeluarga, munculnya pemuda yang tidak memiliki etika dapat dihindari. Namun apabila orang tua kurang memperhatikan anaknya, maka hal itu akan sangat mudah terjadi. Para pemuda yang tidak memiliki  etika akan sangat membahayakan masa depan bangsa ini. Pemuda adalah tulang punggung negara, maka apabila hal diatas terjadi maka masa depan bangsa ini akan menunggu waktu akan kehancurannya.

Hal kecil yang sangat disayangkan yaitu bahwa orang tua semata-mata hanya menyalahkan para kawula muda, apabila terjadi suatu tindakan yang kurang baik maka kawula mudalah yang akan menjadi kambing hitanmya. Pada dasarnya semua hal yang terjadi adalah tanggungjawab semua pihak, yaitu orang tua dan pemuda.

Permasalahan yang sering muncul adalah banyak dri orang tua yang selalu merasa benar dan selalu ingin dihormati dan mengabaikan kreaatifitas serta potensi yang dimiliki anak muda. Hal ini menimbulkan bebagai persoalan khususnya di dunia anak muda. Yang lebih parah lagi bukan hanya orang tua yang memiliki anggapan buruk, tetai kawula muda pun juga memiliki anggapanya sendiri. Yaitu bahwa anak muda juga merasa tudak dihargai dimata orang tua. Hal ini merupakan salah satu faktor yang memicu munculnya para pemuda yang kurang beretika.

Uraian diatas merupakan persoalan kecil yang tidak setiap orang menyadarinya. Dari persoalan kecil tersebut akan menimbulkan masalah yan lebih besar, yaitu munculnya generasi yang tidak memiliki nilai tatakrama dan sopan santun serta etika yang baik. Bila hal ini dipertanyakan kepada kedua belah pihak yaitu antara pemuda dan orang tua, maka jaabannya akan singkron  saling menyalahkan. Sesungguhnya inilah hal penting yang harus diperhatikan saat ini, yaitu saling mernadari bahwa kita harus saling menghargai dan menghormati antara pemuda dan orang tua. Bila sikap saling menghormati dan menghargaidapat dijaga dengan baik, maka akan terjadi suatu hubungan yang harmonis serasi dan selaras antara orang tua dan kaum muda.mulai dari sinilah dapat dilanjutkan ketingkat berikutnya yaitubersikap sopan santun dan bertatakrama dengan baik yang muncul dari hati dan bukan karena paksaan,bersopan santun dan bertatakrama dengan baik dapat berjalan apabila timbulnya suatu rasa saling menghargai dan menghormati antara sesama. Hal inilah yang bisa kita laksanakan dikehidupan kita sehari-hari.

Dampak dengan tidak adanya sopan santun dan tatakrama dapat menimbulkan permasalahan yang lebih kompleks. Sebagai mana disebutkan diatas tadi, yaitu bahwa bangsa Indonesia memiliki kepribadian yang luhur yang terkenal akan keramah tamahannya. Bila hal ini ditanyakan pada saat ini maka akan sangat sulit untuk menjawabnya. Apakah bangsa ini masih merupakan bangsa yang disebutkan diatas tadi.

Secara tidak langsung dengan kurangnya kita bersopan santun dan bertatakrama, jati diri kita sebagai bangsa indonesia sudah mulai luntur. Inilah masalah besar yang timbul dari hal sepele, perkara yang seharusnya kitaperhatikan sejak kita masih kecil, hal yang seharusnya diajarkan oleh para orang tua. Memang, masih banyak orang dari bangsa ini yang masih menjunjung kesopanan dan tatakrama, tetapi lebih banyak lagi orang-orang yang telah melupakan tentang tatakrama dan sopan santun tersebut. Inilah persoalan yang mendasar yang menjadi permasalahan bangsa indonesia saat ini. “Krisis jati diri” mungkin itu kata yang tepat untuk menyebutkan situasi bangsa Indonesia saat ini. Sebenarnya kata itu sangat menyakitkan hati bagi oarang-orang yang mau berfikir. Bangsa ini merupakan bangsa yang berbudaya , namun bangsa ini kini telah kehilangan jatu dirinya. Bangsa yang duluhebat karena budayanya, kini telah rapuh dengan sendirinya. Persoalan inilah yang menimbulkan masalah yang lebih besar dan mengerikan.

Akhir-akhir ini banyak berita tentng budaya yang di klaim, ternyata itu adalah budaya kita. Budaya bangsa ini yang telah di klaim oleh bangsa lain. Budaya kita diaku-aku oleh negara tetangga. Inilah hal yang paling Mengerikan yang ditimbulkan dari hal kecil yang bermula dari persoalan tatakrama dan sopan santun. Hal tersebut kini menjadi momok yang mengerikan bagi bangsa ini. Suatu bangsa yang dicuri kebudayaannya oleh bangsa lain. Pertanyaannya adalah bangsa ini memiliki kebudayaan yang memang benar-benar hebat sehingga negara lain ingin memilikinya, ataukah bangsa ini kelebihan budaya  sampai-sampai  negara lain pun ingin memilikinya. Inilah yang terjadi saat ini. Budaya Indonesia diklaim oleh negara lain itulah kenyataan yang menghantui bangsa Indonesia saat ini. Memang mencengangkan, berawal dari hal kecil yasitu dari brlaku sopan santun dampak yang ditimbulkanya sangat besar, yaitu hilangnya budaya bangsa ini sendiri, mau tidak mau itulah yang terjadi saat inipada bangsa kita, bangsa Indonesia.

Semua ini bisa diatasi apabila kita kembali kepada kita yang dulu. Kembali mempelajari ajaran tatakrama para nenek moyang dahulu. Dan kita harus mulai memperbaiki dari hal kecil dan mulai dari hal kecil. Kita harus mulai dri sekarang, sebelum semuanya menjadi lebih parah. Kita kembalikan dari kita lagi ke jati diri bangsa ini yang benar-benar luhur. Kita mulai ajarkan sopan santun mulai dari anak-anak, sehingga kelak akan muncu generasi-generasi yang beretika dan bangsa ini menjadi bangsa yang kokoh kembali.

Semua itu akan menjadi sia-sia bila tidak dilakukan secara bersama-sama. Bisa kita ketahui bahwa bangsa ini merupakan bangsa yang majemuk, bangsa yang besar dengan keanekaragaman budaya nasyarakat adatnya. Itu memerlukan usaha yang luar biasa hebat untuk menyatukannya. Inilah suatu kesulitan proses yang dihadapi dalam prakteknya, lain ceritanya bila yang melakukan langkah-langkah tersebut adalah pemerintah, yang memang memilii wewenang akan kekuasaan. Hal ini akan mudah sampai di masyarakat dengan baik.

Dari uraian tersebut, tanggungjawab akan sopan santun dan tatakrama ini menjadi milik bersama, bukan hanya orang dengan orang, melainkan melingkupi seluruh aspek kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara.

Simpulan.

Dari semua uraian diatas, kita dapat mendapatkanmenarik kesimpulan dari masalah yang timbul yaitu:

  • Anak-anak yang kurang peduli tentang sopan santun dapat diatasi dengan memberikan pendidikan tatakrama mulai dari kecil melalui langkah-langkah:
  1. Orang tua sebagai model.
  2. Mulai dari hal kecil
  3. Serta menjelaskan tujuanya.
  • Mengenai permasalahan pemuda yang kurang memiliki etika itu disebabkan oleh tudak diberinya pengajaran sejak kecil, dan pengakuan dari orang tua bahwaantara orang tua dan kawula muda memiliki suatu tanggungjawab yang sama untuk saling menghormati dan menghargai.
  • Tentang lunturya kepribadian dan budaya bangsa meripakan dampak dari tidak adanya sopan santun dan tatakrma alam kehidupan,maka dari itu kita harus selalu memupuk rasa saling menghormati dan menghargai untuk menimbulkan rasa bersopan santun dan tatakrama antar sesama.
  • Mengenai budaya bangsa yang diklaim oleh bangsa lain merupakan tanggungjawab kita bersama, sehingga kit harus menjaga secara utuh mulai dari budayanya hingga sikapnya, karena budaya menunjukan perwujudan dari sikap yang berdasar pada saling menghormati dan menghargai sehingga terwujud suatu bentuk sopan santun dan tatakrama yang baik.



5 Responses to “TATAKRAMA DAN SOPAN SANTUN”


  1. Juni 3, 2010 pukul 1:11 pm

    Bangsa yang baik adalah bangsa yang mau menjujung tinggi kebudayaanya sendiri….good Post!

    mampir juga kerumah http://kolomkiri.wordpress.com

  2. 2 eta
    November 15, 2010 pukul 4:26 am

    thanks a lot,membantu ane bikin tugas,,izin copas ya :)

  3. 4 min juli
    Mei 15, 2012 pukul 9:10 am

    wahhhaaaa saya juga izin mengutip yak :)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


menu

my face

pranoto mongso

Juni 2010
S S R K J S M
    Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Blog Stats

  • 20,160 hits

file

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: