01
Apr
12

Pengaruh Tekanan Udara Terhadap Laju Transpirasi Tumbuhan Jasminum Pubercens.


BAB I

PENDAHULUAN

A.  Judul.

Pengaruh Tekanan Udara Terhadap Laju Transpirasi Tumbuhan Jasminum Pubercens.

B.  Latar Belakang.

Proses pertumbuahan serta perkembangan tumbuhan tidak terlepas dari adany metabolism di dalamnya. Dalam proses metabolisme ini tumbuhan memerlukan zat-zat yang ada di lingkunganya sebagai unsur-unsur pendukung jalanya metabolisme tersebut.

Keberadaan unsure-unsur inilah yang juga ikut menentukan kelangsungan hidup dari tumbuhan itu sendiri. Namun keberdaan unsur-unsur yang di perlukan tmbuhan itu tidak memiliki arti apabila dalam tumbuhan itu sendiri tidak mampu mengambil dan menggunakanya.

Kemampuan mengambil unsur-unsur yang di perlukan dari lingkungan ke dalam tubuh tumbuhan di sebut dengan absorbsi.

Salah satu unsur yang digunakan dan di absorbsi oleh tumbuhan adalah senyawa H2O atau air. Air merupakan penyusun hampir 80% dari tubuh tumbuhan itu sendiri, sehingga keberadaanya sangat vital dalam proses kehidupan tumbuhan itu sendiri.

Selain tubuhan menyerap unsure air tumbuhan juga mengeluarkan air sebagai wujud pola keseimbangan. Karena baik kekurangan maupun kelebiahan air akan menyebabkan ketidak seimbangan yang akan mengakibatkan terganggunya metabolism dalam tubuh tumbuhan itu sendiri.

Ukuran pengeluaran air yang biasanya disebut dengan transpirasi. Transpirasi bisa dipengaruhi oleh banyak factor. Factor tersebut ada yang  dari dalam maupun dari luar. Dari dasar itulah ditemuakan sebuah persoalan yang berkaitan dengan proses transpirasi yaitu  ada tidaknya pengaruh tekanan udara dalam proses transpirasi tumbuhan.

Dwijoseputro  (1985),  menjelaskan  bahwa  pemasukan  air  dari  dalam  tanah  ke  dalam jaringan  tanaman melalui sel-sel akar secara difusi dan osmosis. Dengan masuknya air melalui sel  akan  tentulah  akan  terbawa  ion-ion  yang  terdapat  di  dalam  tanah  karena  larutan  tanah mengandung ion.   Bila persedian air dalam  tanah sedikit maka  tumbuhan akan menyerap air sedikit pula, sehingga  tidak mampu mencukupi kebutuhannya. Jika persediaan air  tanah makin kurang maka tumbuhan tersebut akan mengalami kelayuan. Air merupakan factor utama pertahanan tumbuhan (Bidwell, 1979). Fungsi  lain dari air adalah menjaga  turgiditas yang penting bagi perbesaran sel dan pertumbuhan,  serta  membentuk  tanaman  herba.  Turgor  penting  dalam  membuka  dan menutupnya  stomata,  Pergerakan  daun  dan  pergerakan  korola  bunga  dan  terutama  dalam variasi  struktur  tanaman.  Kekurangan  air  dalam  jumlah  yang  besar  menyebabkan  kurangnya tekanan turgor pada/ dalam tumbuhan vegetative (Kramer, 1980).

C.  Rumusan Masalah.

  • Adakah pengaruh tekanan udara terhadap laju transpirasi tumbuahan Jasminum Pubercens?
  • Bagaimana pengaruh tekanan udara terhadap laju transpirasi tumbuhan Jasminum Pubercens?
  • Berapa besar factor tekanan udara terhadap laju transpirasi tumbuhan Jasminum Pubercens?
  1. D.  Tujuan.
  • Mengetahu ada tidaknya pengaruh tekanan udara terhadap laju transpirasi tumbuhan Jasminum Pubercens.
  • Mengetahu dampak factor tekanan udara terhadap laju transpirasi tumbuhan Jasminum Pubercens.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.  Kajian Teori.

Air  merupakan  sumber  kehidupan  bagi  seluruh  makhluk  hidup.  Air mempunyai peranan  sangat  penting  karena  air  merupakan  bahan  pelarut  bagi kebanyakan  reaksi  dalam  tubuh  makhluk  hidup.  Air  juga  digunakan  sebagai medium enzimatis.  Air sangat penting bagi tumbuhan. 30% sampai 90% berat tumbuhan tersusun atas  air.  Tumbuhan menggunakan  air  pada  proses  fotosintesis. Mineral-mineral yang diserap oleh akar harus terlarut juga dalam air.

Absorbsi.

Penyerapan air pada tumbuhan dilakukan dengan dua cara yaitu penyerapan air secara aktif dan penyerapan air secara pasif. Kedua cara tersebut bekerja sendiri-sendiri. Hal ini dikemukakan oleh Kramer (1945).

Penyerapan air secara aktif dilakukan oleh sel hidup. Pada penyerapan tersebut sel memerlukan enerP. Kemampuan penyerapan air dipengaruhi oleh kendungan O2. Apabila akar tanaman mendapat O2 yang cukup proses penyerapan air oleh akar akan berlangsung sangat lancar. Sebaliknya apabilla O2 sangat kurang, penyerapan air oleh akar akan sangat lambat atau tidak terjadi sama sekali.

Teori yang dikemukakan oleh Kramer didukung dengan beberapa bukti sebagai berikut :

a.  Akar tanaman yang hidup pada daerah yang aerasi tanahnya tidak baik misalnya pada tanah yang kurang gembur dan pada tanah yang terendam air bentuk akarnya menggulung.

b.  Apabila respirasi dihalangi dengan zat penghalang misalnya KCN, maka absoprsi aiar air akan berkurang.

c. Absorpsi air hanya dilakukan oleh sel yang hidup. Penyerapan air secara pasif terjadi sebagai akibat dari proses transpirasi pada daun. Semakin lancar transpirasi pada daun, semakin lancar pula absorpsi air oleh akar.

Sumber : Buku Biologi unuk SMU, Hartini Etik Widayati, Intan Pariwara

Adsorpsi adalah contoh dari gejala fisika. Adsorpsi adalah akumulasi suatu substansi pada permukaan substansi yang lainnya. Banyak sekali contoh adsorpsi, salah satunya adalah pada proses penyerapan unsur hara anorganik dari dalam tanah.

Bagian terpenting dalam proses absorbsi air pada tumbuhan adalah adanya komponen pada tumbuhan itu sendiri. Diantara komponen-komponen baik jaringan maupun organ yang bekerja dalam proses absorbsi air pada tumbuhan adalah:

1.  Akar

Akar terdiri atas akar tunggang dan akar serabut. Akar tunggang adalah akar  primer  atau  akar  embrio  yang  terus  tumbuh  membesar  dan memanjang. Akar ini menjadi akar utama yang menopang tegaknya tubuh tumbuhan. Pada  tumbuhan  tertentu akar primer atau akar embrio  tersebut tidak tumbuh terus tetapi mati. Sebagai gantinya akan tumbuh banyak akar di  daerah  batang.  Akar  tersebut  ukurannya  lebih  kecil  dibandingkan dengan akar primer namun bercabang-cabang. Akar  tersebut disebut akar serabut  karena  strukturnya  seperti  serabut.  Akar  serabut  menyebar  ke tanah  sekitar  tumbuhan. Dengan  demikian,  akar-akar  serabut  ini mengumpulkan air dari yang area cukup luas dibandingkan area jangkauan akar tunggang. Akar adalah organ tanaman yang aktif menyerap air. 

Jaringan penyusun akar

•  Lapisan  terluar  adalah  epidermis  yang  berfungsi  sebagai  pelindung bagian  akar. Sel  epidermis  akan  berdinding  tipis  dan  biasanya  tanpa lapisan  kutikula.  Tebal  epidermis  biasanya  satu  lapisan  sel.  Sel-sel epidermis  dapat  tumbuh  menonjol  di  tempat-tempat  tertentu menghasilkan  rambut  akar  yang  berfungsi  untuk  menyerapa  air  dan mineral.

•  Bagian  dalam  epidermis  adalah  lapisan  sel-selyang  disebut  korteks. Pada  batang  tertentu    sel-sel  korteks  berfungsi  untuk  menyimpan makanan. Biasanya korteks terdiri dari sel parenkim, bahkan ada yang tersusun atas sel sklerenkim. Diantara sel-sel parenkim  terdapat ruang antar sel sehingga berfungsi sebagai ruang penyimpanan udara.

•  Lapisan  endodermis.  Lapisan  ini  tersusun  melingkar  seperti  cincin melingkari berkas pembuluh. Sel-sel endodermis membantu mengatur penyerapan air oleh xilem.

•  Di  bagian  dalam  endodermis  terdapat  berkas  xilem.  Xilem  tersusun dari  sejumlah  berkas  yang  terpisah  dan  letaknya  bergantian  dengan berkas pembuluh floem. Sel xilem pada akar berfungsi mengangkut air dan  mineral  menuju  daun.  Sel-sel  floem  mengangkut  makanan  dari daun ke seluruh bagian tumbuhan.

Selain  itu akar  juga mempunyai fungsi penyerapan dan penyimpanan. Tumbuhan memperoleh bahan-bahan yang diperlukan untuk pertumbuhan melalui  akarnya.  Akar  menyerap  air  dari  lingkungan  sekitarnya  secara osmosis.  Akar  juga  menyerap  menyerap  mineral  dari  lingkungan sekitarnya bersama dengan penyerapan air.

Air  masuk  kedalam  akar  melalui  rambut-rambut  akar.  Rambut  akar akan meningkatkan  luas permukaan akar dan dapat meningkatkan  jumlah air yang di serap atau di ambil oleh tumbuhan.

2.  Batang

Sel-sel  xilem  membantu  mendukung  tegaknya  batang  tumbuhan. Jaringan  sel  xilem memiliki  sel-sel  seperti  tabung  yang  berfungsi  untuk menyalurkan  air  dan mineral  keseluruh  tubuh  tumbuhan. Sel-sel  tersebut berdinding  tebal  sehingga  juga  dapat  berfungsi  sebagai  penguat. Korteks merupakan  jaringan  penyimpanan  makanan  pada  tumbuhan.  Umumnya tumbuhan menyimpan makan  dalam  bentuk  pati. Epidermis  pada  batang merupakan pelindung terluar. Epidermis  umumnya  terdiri  dari  satu  lapisan  sel.  Sel  epidermis  ini dapat berdiferensiasi menjadi  stomata  (mulut daun) dan  trikom  (rambut). Mulut  daun  berfungsi  sebagai  jalan  keluar masuknya  gas-gas  sedangkan trikom berfungsi mencegah penguapan yang terlalu banyak dari batang.

Lapisan jaringan pada batang

•   Lapisan terluar batang berkayu adalah gabus. Gabus  tersusun dari sel-sel  yang  telah mati  dan  berfungsi  melindungi  batang  dari  gangguan serangga, penyakit, dan mencegah kehilangan air.

•   Di  bagian  dalam  lapisan  gabus  terdapat  korteks.  Korteks  sering berfungsi untuk menyimpan makanan.

•   Di bagian dalam korteks  adalah sel floem yang tersusun seperti cincin.  Floem  berfungsi   mengangkut  hasil  fotosintesis  dari  daun  ke  seluruh bagian tubuh tumbuhan

•   Kambium adalah lapisan tipis sel-sel yang menghasilkan floem baru ke arah  luar  dan  xilem  baru  ke  arah  dalam.  Tiap  tahun  kambium menghasilkan  sel-sel  xilem  dan  floem  baru  yang  mengakibatkan batang menebal.

•   Lapisan  dalam  batang  berkayu  adalah  xilem.  Sel-sel  xilem memiliki dinding sel tebal yang membantu mendukung tubuh tumbuhan. Sel-sel xilem mengangkut air dari akar ke daun melalui batang. Air    dan  mineral  diperlukan  oleh  bagian  –bagian  tumbuhan  untuk tumbuh.  Daun  membuat  makanan  untuk  tumbuhan  melalui  fotosintesis. Air sampai ke daun melalui batang. Air di serap oleh tumbuhan. Air  yang  di  serap  oleh  akar  diangkut  melalui  batang.  Mineral  dari tanah  terlarut  dalm  air  sehingga  juga  diangkut  melalui  batang.  Air  dan mineral diangkut  oleh sel-sel xilem. Para  ahli  mengembangkan  bagaimana    air  dapat  diangkut  ke  daun. Salah  satunya  menjelaskan  bahwa  gerakan  naiknya  air  pada  tumbuhan identik dengan gerakan air   pada kertas isap atau tisu. Jika kita meletakan kertas isap atau tisu kering ke dalam air, air akan diserap oleh ujung kertas isap atau tisu, dan diteruskan sampai ke seluruh bagian kertas. Bagian  lain dari  teori  tersebut menjelaskan bagaimana air keluar dari tumbuhan.  Air  bergerak melalui  sel-sel  xilem  pada  tumbuhan  dan  akan keluar  dari  daun  melalui  stomata.  Peristiwa  tersebut  dikenal  sebagai transpiras,  yaitu  menguapnya  air  melalui  stomata  di  daun.  Saat  air menguap melalui  daun,  semakin  banyak  pula  air mengalir  ke  daun  dari batang. Air  yang  berada  pada  batang merupakan  air  yang  terserap  oleh akar. Air yang baru selalu masuk ke akar secara osmosis. Batang menyimpan makanan  dalam  bentuk  pati  dan menyimpan  air. Air berasal dari akar, dan pati dibuat dari gula yang diangkut dari daun. Satu  keuntungan  menyimpan  air  pada  batang  adalah  terhindar  dari kekeringan. Air membantu menjaga sel-sel batang tetap kaku.

3.  Daun

Jaringan pada daun

•   Lapisan lilin Lapisan  ini  berfungsi  untuk  melindungi  daun  dari  penguapan  yang berlebihan dan gangguan serangga.

•   Berbatasan  langsung  dengan  lapisan  lilin  yaitu  jaringan  epidermis. Lapisan  ini  merupakan  lapisan  daun  penyusun  terluar.  Lapisan epidermis  berfungsi  sebagai  npelindung  dan  umumnya  hanya  terdiri dari selapis sel yang tipis.

•   Jaringan tiang Jaringan  ini  mengandung  banyak  kloroplas  yang  berfungsi  dalam proses pembuatan makanan. 

•   Jaringan spons Renggangnya  hubungan  antara  sel  pada  jaringan  ini  memungkinkan adanya  ruang  antara  sel  yang  cukup  besar  untuk  menampung  gas karbondioksida,  oksigen, maupun  hidrogen.  Sel-sel  ini  juga  berperan dalam pembuatan makanan melalui proses fotosintesis.

•   Jaringan stoma Stoma  adalah  pori  kecil  pada  epidermis  daun.  Bila  jumlahnya  lebih dari  satu  disebut  stomata. Ukuran  stoma  berubah-ubah karena  sel-sel penutup  tersebut  mengembang  dan  mengempis  saat  air  masuk  atau keluar secara osmosis. 

•   Terdapat urat-urat daun.  Urat  daun  yang  besar  biasanya  berada  di  tengah  helaian  daun  dan bercabang-cabang sampai mencapai helaian daun. Stomata  pada  daun  bisa  terdapat  pada  epidermis  atas  dan  epidermis bawah stomata ini berfungsi sebagai jalan keluar masuknya udara maupun uap air. Umumnya stomata akan membuka di siang hari untuk mengambil karbondioksida  yang  digunakan  untuk  proses  fotosintesis.  Stomata  akan menutup  pada malam  hari  saat  karbondioksida  tidak  diperlukan. Ukuran stomata  berubah  ubah  karena  sel-sel  penutup  tersebut mengembang  dan mengempis saat air masuk atau keluar secara osmosis.

Penyerapan air dipengaruhi oleh faktor dalam (disebut pula faktor tumbuhan) dan faktor luar atau faktor lingkungan (Soedirokoesoemo, 1993). Menurut Soedirokoesoemo (1993), Faktor dalam terdiri dari:

  • Kecepatan transpirasi : semakin cepat transpirasi makin cepat penyerapan.
  • Sistem perakaran : tumbuhan yang mempunyai system perakaran berkembang baik, akan mampu mengadakan penyerapan lebih kuat karena jumlah bulu akar semakin banyak.
  • Kecepatan metabolisme : karena penyerapan memerlukan energi, maka semakin cepat metabolismem (terutama respirasi) akan mempercepat penyerapan.

Menurut Soedirokoesoemo (1993), factor lingkungan terdiri dari:

  • Ketersediaan air tanah : tumbuhan dapat menyerap air bila air tersedia antara kapasitas lapang dan konsentrasi layu tetap. Bila air melebihi kapasitas lapang penyerapan terhambat karena akan berada dalam lingkungan anaerob.
  • Konsentrasi air tanah : air tanah bukan air murni, tetapi larutan yang berisi berbagai ion dan molekul. Semakin pekat larutan tanah semakin sulit penyerapan.
  • Temperatur tanah : temperatur mempengaruhi kecepatan metabolism. Ada temperatur optimum untuk metabolisme dan tentu saja ada temperatur optimum untuk penyerapan.
  • Aerasi tanah: yang dimaksud dengan aerasi adalah pertukaran udara, yaitu maksudnya oksigen dan lepasnya CO2 dari lingkungan. Aerasi mempengaruhi proses respirasi aerob, kalau tidak baik akan menyebabkan terjadinya kenaikan kadar CO2 yang selanjutnya menurunkan pH. Penurunan pH ini berakibat terhadap permeabilitas membran sel.

Adsorpsi (penyerapan) adalah suatu prosed pemisahan dimana komponen dari suatu ase fluida berpindah ke permukaan zat padat yang menyerap (adsorben). Biasanya partikel-partikel kecil zat penyerap dilepaskan pada adsorpsi kimia yang merupakan ikatan kuat antara penyerap dan zat yang diserap sehingga tidak mungkin terjadi proses bolak-balik (Tinsley, 1979).

Dalam adsorpsi digunakan istilah adsorbat dan adsorban, dimana adsorbat adalah substansi yang terjerap atau substan si yang akan dipisahkan dari pelarutnya, sedangkan adsorban adalah merupakan suatu media penyerap yang dalam hal ini berupa senyawa karbon (Weber, 1972)

Proses adsorpsi dapat digambarkan sebagai proses dimana molekul meninggalkan larutan dan menempel pada permukaan zat adsorben akibat kimia dan fisika (Reynolds, 1982).

Proses adsorpsi tergantung pada sifat zat padat yang mengadsorpsi, sifat atom/molekul yang diserap, konsentrasi, temperatur dan lain-lain. Pada proses adsorpsi terbagi menjadi 4 tahap yaitu :

1.  Transfer molekul-molekul zat terlarut yang teradsorpsi menuju lapisan film yang mengelilingi adsorben.

2.  Difusi zat terlarut yang teradsorpsi melalui lapisan film (film diffusion process).

3.  Difusi zat terlarut yang teradsopsi melalui kapiler/pori dalam adsorben (pore diffusion process ).

4.  Adsorpsi zat terlarut yang teradsorpsi pada dinding pori atau permukaan adsorben.(proses adsorpsi sebenarnya), (Reynolds, 1982).

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan adsorpsi suatu adsorben diantaranya adalah senagai berikut:

1. Luas permukaan adsorben

Semakin luas permukaan adsorben, semakin banyak asorbat yang diserap, sehingga proses adsorpsi dapat semakin efektif. Semaki kecil ukuran diameter partikel maka semakin luas permukaan adsorben.

2. Ukuran partikel

Makin kecil ukuran partikel yang digunakan maka semakin besar kecepatan adsorpsinya. Ukuran diameter dalam bentuk butir adalah lebih dari 0.1 mm, sedangkan ukuran diameter dalam bentuk serbuk adalah 200 mesh.

3. Waktu kontak

Semakin lama waktu kontak dapat memungkinkan proses difusi dan penempelan molekul adsorbat berlangsung lebih baik. Konsentrasi zat-zat organic akan turun apabila kontaknya cukup dan waktu kontak biasanya sekitar 10-15 menit.

4. Distribusi ukuran pori

Distribusi pori akan mempengaruhi distribusi ukuran molekul adsorbat yang masuk kedalam partikel adsorben. Kebanyakan zat pengasorpsi atau adsorben merupakan bahan yang sangat berpori dan adsorpsi berlangsung terutama pada dinding-dinding pori atau letak-letak tertentu didalam partikel tersebut.

Transpirasi.

Transpirasi dapat dikatakan proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui stomata. Transpirasi berlangsung melalui bagian tumbuhan yang berhubungan dengan udara luar, yaitu melalui pori – pori daun yakni melalui stomata, lubang kutikula, dan lentisel oleh proses fisiologi tanaman. Selain itu juga transpirasi terjadi melalui luka dan jaringan epidermis pada daun, batang, cabang, ranting, bunga, buah, dan bahkan akar. Cepat lambatnya proses transpirasi ditentukan oleh faktor-faktor yang mampu merubah wujud air sebagai cairan ke wujud air sebagai uap atau gas dan faktor-faktor yang mampu menyebabkan pergerakan uap atau gas. Transpirasi dalam tanaman atau terlepasnya air melalui kutikula hanya 5-10% dari jumlah air yang ditranspirasikan di daerah beriklim sedang. Air sebagian besar menguap melalui stomata, sehingga jumlah dan bentuk stomata sangat mempengaruhi laju transpirasi (Salisbury&Ross.1992).

Dalam proses ini, ketika air menguap dari sel mesofil, maka cairan dalam sel mesofil akan menjadi semakin jenuh. Sel-sel ini akan menarik air melalu osmosis dari sel-sel yang berada lebih dalam di daun. Sel-sel ini pada akhirnya akan menarik air yang diperlukan dari jaringan xylem yang merupakan kolom berkelanjutan dari akar ke daun. Oleh karena itu, air kemudian dapat terus dibawa dari akar ke daun melawan arah gaya gravitasi, sehingga proses ini terus menerus berlanjut. Proses penguapan air dari sel mesofil daun biasa kita sebut dengan proses transpirasi. Oleh itu, pengambilan air dengan cara ini biasa kita sebut dengan proses tarikan transpirasi dan selama akar terus menerus menyerap air dari dalam tanah dan transpirasi terus terjadi, air akan terus dapat diangkut ke bagian atas sebuah tanaman (Lakitan, 2007).

Kegiatan transpirasi dipengaruhi banyak faktor, baik faktor dalam maupun luar. Faktor dalam antara lain besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapis lilin atau tidaknya permukaan daun, banyak sedikitnya bulu pada permukaan daun, banyak sedikitnya stomata, bentuk dan letak stomata (Salisbury&Ross.1992) dan faktor luar antara lain kelembaban, angin, suhu, cahaya, dan kandungan air tanah, jumlah daun, dan jumlah stomata. Besar bukaan stomata maka daya hantarnya akan semakin tinggi. Pada beberapa tulisan digunakan beberap istilah resistensi stomata. Dalam hubungan ini daya hantar stomata berbanding dengan resistensi stomata ( Cambpell, 2003 ).

Secara alamiah tumbuhan mengalami kehilangan air melalui penguapan. Proses kehilangan air pada tumbuhan ini disebut transpirasi. Pada transpirasi, hal yang penting adalah difusi uap air dari udara yang lembab di dalam daun ke udara kering di luar daun. Kehilangan air dari daun umumnya melibatkan kekuatan untuk menarik air ke dalam daun dari berkas pembuluh yaitu pergerakan air dari sistem pembuluh dari akar ke pucuk, dan bahkan dari tanah ke akar. Besarnya uap air yang ditranspirasikan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:

1   Faktor dari dalam tumbuhan (jumlah daun, luas daun, dan jumlah stomata);

2   Faktor luar (suhu, cahaya, kelembaban, dan angin).

pada tanaman darat umumnya stomata terdapat pada permukaan daun bagian bawah, sementara pada tanaman air stomata terdapat pada permukaan atas daun. Semakin banyak jumlah stomata maka proses transpirasi dapat berlangsung lebih cepat. Lubang stomata yang tidak bundar melainkan oval memiliki hubungan dengan intensitas pengeluaran air. Juga yang jarak antar stomata satu dengan yang lain dapat mempengaruhi intensitas penguapan. Jika lubang-lubang itu terlalu berdekatan maka penguapan dari lubang stomata yang satu akan menghambat penguapan dari lubang stomata yang berdekatan.Temperatur berpengaruh pada membuka dan menutupnya stomata. Pada banyak tanaman stomata tidak berserdia membuka jika temperatur ada disekitar 0 C

Menurut pendapat Dwijoseputro, 1986 faktor lingkungan yang mempengaruhi transpirasi adalah:

1.  Kelembaban; Gerakan uap air dari udara ke dalam daun akan menurunkan laju neto dari air yang hilang, dengan demikian seandainya faktor lain itu sama, transpirasi akan menurun dengan meningkatnya kelembaban udara. Apabila stomata dalam keadaan terbuka maka kecepatan difusi dari uap air keluar tergantung pada besarnya perbedaan tekanan uap air yang ada di dalam rongga-rongga antar sel dengan tekanan uap air di atmosfer. Jika tekanan uap air di udara rendah, maka kecepatan difusi dari uap air di daun keluar akan bertambah besar begitu pula sebaliknya. Pada kelembaban udara relatif 50% perbedaan tekanan uap air didaun dan atmosfer dua kali lebih besar dari kelembaban relatif 70%.

2.  Suhu; Kenaikan suhu dari 180 sampai 200F cenderung untuk meningkatkan penguapan air sebesar dua kali. Suhu daun di dalam naungan kurang lebih sama dengan suhu udara, tetapi daun yang terkena sinar matahari mempunyai suhu 100 – 200F lebih tinggi dari pada suhu udara.

3.  Cahaya; Cahaya mempengaruhi laju transpirasi melalui dua cara yaitu: a. Sehelai daun yang terkena sinar matahari langsung akan mengabsorbsi energi radiasi b. Cahaya tidak usah selalu berbentuk cahaya langsung dapat pula mempengaruhi transpirasi melalui pengaruhnya terhadap buka-tutupnya stomata, dengan mekanisme tertentu.

4.  Angin; Angin cenderung untuik meningkatkan laju transpirasi, baik didalam naungan atau cahaya, melalui penyapuan uap air. Akan tetapi di bawah sinar matahari, pengaruh angin terhadap penurunan suhu daun, dengan demikian terhadap penurunan laju transpirasi, cenderung menjadi lebih penting daripada pengaruhnya terhadap penyingkiran uap air. 5). Kandungan air tanah; Jika kandungan air tanah menurun, sebagai akibat penyerapan oleh akar, gerakan air melalui tanah ke dalam akar menjadi lebih lambat. Hal ini cenderung untuk meningkatkan defisit air pada daun dan menurunkan laju transpirasi lebih lanjut.

Salah satu cara untuk mengevaluasi seberapa efisien sebatang tumbuhan menggunakan air adalah dengan menentukan rasio transpirasi terhadap fotosintesisnya, yaitu jumlah air yang hilang per gram CO₂ yang diasimilasikan menjadi bahan organik melalui fotosintesis. Tumbuhan yang efisien akan menguapakan air dalam jumlah yang lebih sedikit untuk membentuk struktur tubuhnya (bahan keringnya) dibandingkan dengan tumbuhan yang kurang efisien dalam memanfaatkan air. (Campbell et all 2003)

Dehidrasi.

Dehidrasi adalah gangguan dalam keseimbangan cairan atau air pada tubuh. Hal ini terjadi karena pengeluaran air lebih banyak daripada pemasukan (misalnya minum). Gangguan kehilangan cairan tubuh ini disertai dengan gangguan keseimbangan zat elektrolit tubuh.

Dehidarasi terjadi karena:

  • kekurangan zat natrium;
  • kekurangan air;
  • kekurangan natrium dan air.

Dehidrasi terbagi dalam tiga jenis berdasarkan penurunan berat badan, yaitu

  • Dehidrasi ringan (jika penurunan cairan tubuh 5 persen dari berat badan).
  • Dehidrasi sedang (jika penurunan cairan tubuh antara 5-10 persen dari berat badan),
  • Dehidrasi berat (jika penurunan cairan tubuh lebih dari 10 persen dari berat badan).

Selain mengganggu keseimbangan tubuh, pada tingkat yang sudah sangat berat, dehidrasi bisa pula berujung pada penurunan kesadaran, koma, hingga meninggal dunia, atau tidak.

Dehidrasi terjadi jika cairan yang dikeluarkan oleh tubuh melebihi cairan yang masuk. Namun karena mekanisme yang terdapat pada tubuh manusia sudah sangat unik dan dinamis maka tidak setiap kehilangan cairan akan menyebabkan tubuh dehidrasi.

Dalam kondisi normal, kehilangan cairan dapat terjadi:

  • Bernafas
  • Kondisi cuaca sekitar
  • Berkeringat (dalam hal ini transpirasi berlebih)
  1. B.  Hipotesis.
  • Tekanan udara berpengaruh terhada alaju transpirasi tumbuhan, tekanan udara akan mempercepat laju transpirasi pada tumbuhan Jasminum Pubercens.
  • Terjadinya tekanan udara akan berakaibat hilangnya air dari tubuh tumbuhan (dehidrasi tumbuhan) Jasminum Pubercens.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A.  Waktu Dan Tempat Pelaksanaan Praktikum.

Pada praktikum ini  dilaksanakan di lab fisiologi tumbuhan biologi UNY dengan waktu pelaksanaan pada hari kamis 23 Desember 2010 pukul 11.00 di lab fisiologi tumbuhan UNY. Adapun alat-alat yang kami gunakan kami meminjannya dari lab fisiologi tumbuhan biologi UNY.

B.  Bahan Penelitian populasi, sampel.

Bahan utama penelitian ini kami menggunakan tanaman poncosudo/Jasminum Pubercens. Cara penggunaanya adalah dengan mengambil sebagian batang dengan variasi dan jumlah daun yang diusahakan sama supaya lebih mudah untuk di lakukan penghitunganya.

C.  Variable Penelitian.

Variable yang akan kami gunakan terdiri dari:

Control.

Variable kontrolnya adalah tekanan udara normal/tanpa perlakuan.

Variable tergayut.

Variable tergayut yang di gunakan adalah laju transpirasi (volume air yang hilang).

Variable bebas.

Variable bebas yang akan digunakan adalah besarnya tekanan udara yang akan diberikan.

D.  Alat dan Bahan.

Adapun alat dan bahan yang digunakan adalah:

Alat:

  • Fotometer                                                          : 4 buah dengan skala 0.01 ml
  • Kipas angin                                                        : 1 buah merek sekai
  • Pengukur tekanan udara/Barometer                      : 1 buah
  • Pisau                                                                 : 1 buah
  • Penggaris                                                           : 1 buah
  • Alat tulis                                                             : selengkapnya
  • Kertas grafik                                                       : 1 lembar

Bahan:

  • Daun poncosudo/Jasminum Pubercens.               : 4 batang masing-masing 3 helai daun.
  • Air                                                                     : secukupnya
  • Lilin/malam                                                         : secukupnya

E.  Cara Kerja.

  1. Menyiapkan alat dan bahan (Fotometer, daun poncosudo, air, kipas angin, barometer dan malam) yang akan di gunakan.
  2. Membersihkan fotometer dari kotoran dan mengecek apabila terjadi kebocoran.
  3. Menyusun alat dengan bahan seperti yang ada dalam gambar dengan tepat dan memastikan bahwa alat tersebut dapat bekerja dengan baik serta tidak terjadi kebocoran sebelum dilakukan penghitungan waktu, pada leher antara daun dan foto meter diberikan lilin supaya bila tertiup kipas angin tidak goyang dan akan menimbulkan kebocoran.

 

 

 

Keterangan:

  1. Tanaman poncosudo.
  2. Kipas angin.
  3. Fotometer.
  4. Pengukur tekanan angin.
    1. Membuat rangkaian alat tersebut ke dalam beberapa rangkaian, yang satu sebagai control (tanpa perlakuan apapun) yang lain diberi tekanan dengan bantuan kipas angin dengan berbagai ukuran tekanan dengan cara mengatur jarak peletakan alat fotometer yang diukur dengan alat pengukur tekanan udara.
    2. Meletakkan alat tersebut pada tempat yang sama supaya tidak terjadi perbedaan variabel, karena perbedaan perlakuan hanya akan dibuat pada tekanan udaranya saja
    3. Alat pertama di letakan pada tempat yang normal (tanpa perlakuan) dan mengukur tekanan udaranya dengan barometer.
    4. Alat kedua diletakan di depan kipas angin yang telah dinyalakan dengan jarak 30 cm dan mengukur tekanan udaranya dengan barometer.
    5. Alat ketiga diletakan di depan kipas angin yang telah dinyalakan dengan jarak 60 cm dan mengukur tekanan udaranya dengan barometer.
    6. Alat keempat diletakan didepan kipas angin yang telah dinyalakan dengan jarak 90 cm dan mengukur tekanan udaranya dengan barometer.
    7. Mengukur suhu, walau tidak ada kaitanya hal ini membuktikan bahwa perlakuan yang diberikan akan sama.
    8. Mencatat setiap hasil pengurangan volume air yang terjadi setiap 30 menit pada kertas table disesuaikan dengan tekanan udara yang disesuaikan pada setiap perlakuan percobaan yang dilakukan.
    9. Membuat grafik pada kertas grafik supaya dapat terbaca seberapa besar pengaruhnya.
    10. Menyimpulkan dan membuat laporan hasil percobaan tersebut.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A.  Hasil Penelitian.

Dari percobaan yang telah dilakukan didapatkan data sebagai berikut:

Jarak (cm)

Tekanan (cmHg)

Pengurangan air (ml)

Laju transpirasi (ml/h)

30

76.91

0.05

0.1

60

76.87

0.03

0.06

90

76.84

0.02

0.04

control

76.80

0.01

0.02

Pada saat dilakukan percobaan suhu yang tertera pada barometer adalah 340 C, percobaan dilakukan selama 30 menit/0.5 h untuk masing-masing perlakuan.

Bila dilakukan penghitungan untuk laju transpirasi didapatkan:

  1. Pada jarak 30cm: 0.05 ml / 0.5 h = 0.1 ml/h
  2. Pada jarak 60 cm: 0.03 ml / 0.5 h = 0.06 ml/h
  3. Pada jarak 90 cm: 0.02 ml / 0.5 h = 0.04 ml/h
  4. Pada control: 0.01 ml / 0.5 h = 0.02 ml/h

Bila data tersebut di buat grafik maka akan terlihat seberapa besar pengaruh tekanan udara terhadap laju transpirasinya. Berikut adalah grafik yang dibuat berdasarkan data yang telah didapatkan.

B.  Pembahasan.

Dalam praktikum Group Poject kali ini kami melakukan percobaan tentang transpirasi. Disini kami melakukan percobaan dengan tema pengaruh tekanan udara terhadap laju transpirasi pada tumbuhan poncosudo. Adapun alat yang kami gunakan diantaranya adalah fotometer, kipas angin, pengukur tekanan udara/Barometer, pisau, penggaris, alat tulis, kertas grafik. Dan bahan-bahan yang kami pergunakan diantaranya adalah daun tumbuhan poncosudo, malam, dan air.

Dalam praktikumini kami merangkai fotometer dan daun poncosudo sedemikian rupa sehingga dapat melakukan transpirasi secara terpantau. Kami menggunakan 4 alat fotometer karena kami akan menggunakan berbagai tekanan sebagai variabel bebasnya, dan menggunakan satu kontrol yatu pada alat yang tidak dilakukan perlakuan apapun.

Kami menggunakan daun tumbuhan poncosudo dengan ukuran dan jumlah yang sama. Hal ini kami lakukan supaya tidak terjadi perbedaan hasil karena pengaruh lain selain tekanan udara. Dalam praktikum kali ini kami menggunakan daun sejumlah tiga helai dengan luas daun kisaran antara 4 cm X 6 cm.

Setelah kami membuat rangkaian alat dan memastikan bahwa alat tersebut dapat bekerja dengan baik dalam artian tidak terjadi kebocoran kami memastikanya dengan menempelkan malam/lilin pada persambungan antara daun poncoudo dan karet pada alat fotometer. Kemudian meletakan alat tersebut didepan kipas angin dengan berbagai ukuran.

Yang pertama kami meletakan sejauh 30 cm di depan kipas angin, kami mengukur tekanan yang terjadi pada jarak sekian ini dan jarum pada barometer menunjukan pada angka 76.90 cmHg. Setelah 30 menit kami melakukan percobaan kami mendapatkan pengurangan air pada foto meter sebesar 0.05 ml, dan setelah penghitungan didapatkan laju transpirasi sebesar 0.1 ml/h.

Pada alat yang kedua kami meletakan rangkaian fotometer pada jarak 60 cm di depan kipas angin, kami mengukur tekanan yang terjadi pada jarak sekian ini dan kami mendapatkan angka 76.87 cmHg. Setelah 30 menit berlalu kami mendapati pengurangan air pada fotometer sebesar 0.03 ml, setelah penghitungan didapatkan laju transpirasi mencapai 0.06 ml/h.

Pada alat yang ke tiga kami meletakanya sejauh 90 cm dari depan kipas angin. Tekanan anginya didapatkan sebesar 76.84 cmHg dan setelah 30 menit air fotometer yang berkurang adalah sebanyak 0.02 ml, dan setelah dihitung laju transpirasinya adalah sebesar 0.04 ml/h.

Pada control yang kami lakukan tanpa perlakuan apapun kami mendapati tekanan udara normalnya adalah 76.80 cmHg, dan pengurangan air pada fotometer sebesar 0.01 ml maka sesuai perhitungan laju transpirasi yang terjadi sebesar 0.02 ml/h. Pada keadaan tersebut kami juga mengukur suhu udara yang ada di sekitar percobaan. Suhu pada saat itu yaitu sebesar 340C.

Dari hasil percobaan yang telah dilakukan didapati bahwa tekanan udara berpengaruh terhadap laju transpirasi pertumbuhan. Hal ini bisa terjadi karena pada saat tumbuhan melakukan proses transpirasi secara biasa bila diberikan tekanan udara diatasnya maka akan mempercepat terjadinya penguapan air sehingga akan mmbuat tumbuhan tersebut terus melakukan proses tramnspirasi secara terus-menerus.

Semakin besar tekanan yang diberikan pada permukaan daun yang diberikan maka akan semakin besar pula laju transpirasinya. Bila hal ini terjadi secara terus-menerus maka akan terjadi ketidak seimbangan dalam tubuh tumuhan tersebut yang akan mengakibatkan kurangnya kandungan air dalam tubuh tumbuhan yang bisa berakibat hingga ke kematian. Mekanisme ini sebenarnya mirip dengan mekanisme dehidrasi pada tubuh manusia, dimana pada saat tubuh berkeringat dan tertiup oleh angin maka tubuh akan lebih cepat kehilangan cairan.

Namun hal tersebut diatas ternyata hanya terjadi pada suhu-suhu tertentu, karena pada kondisi suhu yang terlalu tinggi justru angin akan menurunkan suhu daun sehingga berakibat pada  penurunan laju transpirasi, penurunan laju transpirasi cenderung menjadi lebih penting daripada pengaruhnya terhadap penyingkiran uap air (Dwijoseputro, 1986)

BAB V

PENUTUP

A.  Kesimpulan.

  1. Tekanan udara berpengaruh terhadap laju transpirasi tumbuhan Jasminum Pubercens.
  2. Dampak faktor tekanan udara pada tumbuhan Jasminum Pubercens terjadi pada keadaan suhu tertentu, yaitu terjadi pada keadaan normal. Apabila pada keadaan suhu yang terlalu tinggi maka tekanan udara akan menurunkan suhu permuakaan daun yang berakibat pada turunya laju transpirasi tumbuhan Jasminum Pubercens.

B.  Daftar pustaka.

Bidwell, R.G.S.1979. Plant Physiology edition 2. Macmillion Publishing. Co : NewYork

Bonner, James dan Arthur W. Galston. 1951. Priciples of Plant Physiology. W.H. Freeman and Co. Pasadena

Devlin, R. M and F. H Witham. 1975. Plant Physiology. Rinelang book Corporation a Subsidiarey of Champion Reinhold inc: New York

Dwidjoseputro, D. 1994.Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia : Jakarta

Lukman, Diah . 1997.Buku Ajar Fisiologi Tumbuhan. PT. Raja Grafindo Persada : Jakarta

Noggle, F.R  dan G.J. Fritz.1979.Introductory Plant Physiology. Van Hostrand Rain Hold  : New York

Salisbury and Ross.1995. Fisiologi Tumbuhan. ITB : Bandung


0 Responses to “Pengaruh Tekanan Udara Terhadap Laju Transpirasi Tumbuhan Jasminum Pubercens.”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




menu

my face

pranoto mongso

April 2012
S S R K J S M
« Agu   Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 39,301 hits

file

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 4 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: